techiiii.com – Pernah rapat, punya pendapat berbeda, lalu memilih diam karena takut dianggap menyela? Atau sebaliknya, bicara terlalu blak-blakan dan suasana jadi dingin? Dua-duanya sering terjadi, dan akar masalahnya sama: kita merasa harus memilih antara jujur dan sopan.
Padahal tidak harus. Ada pendekatan yang disebut komunikasi asertif, yaitu menyampaikan pendapat, keinginan, dan perasaan secara jelas tanpa merendahkan atau melanggar hak orang lain. Artikel ini membahas perbedaannya dengan gaya komunikasi lain, teknik yang bisa dipakai, contoh kalimat, dan cara mengurangi rasa canggung saat mempraktikkannya.
Tegas Itu Bukan Kasar, Sopan Itu Bukan Diam
Sumber pembelajaran yang saya baca membagi gaya komunikasi menjadi empat:
| Gaya | Ciri utama | Contoh kalimat |
|---|---|---|
| Pasif | Menahan perasaan dan kebutuhan, mengalah demi menghindari konflik | “Terserah kamu saja, saya ikut.” |
| Agresif | Mengutamakan kebutuhan sendiri, bisa defensif atau menyerang | “Sudahlah, jangan dibesar-besarkan.” |
| Pasif-agresif | Terlihat mengalah, tetapi marah lewat sindiran, diam-diaman, atau sabotase | “Oh, ya sudah, bagus kok. Terserah.” (dengan nada ketus) |
| Asertif | Jujur dan langsung, tetap menghargai perasaan dan kebutuhan orang lain | “Saya punya pandangan berbeda soal ini, boleh saya jelaskan?” |
Contoh kalimat di tabel adalah ilustrasi saya, bukan kutipan sumber. Intinya, gaya pasif membuat kebutuhanmu tidak terdengar dan bisa menumpuk jadi kekesalan. Gaya agresif membuat pesanmu cepat sampai, tetapi sering membuat orang menjauh. Gaya asertif berusaha melindungi dua hal sekaligus: pesanmu dan hubunganmu.
Mengapa Terasa Canggung?
Rasa canggung biasanya bukan soal kalimatnya, tetapi keyakinan di baliknya. Modul dari Centre for Clinical Interventions (Australia Barat) menyebut beberapa keyakinan yang sering menghambat, misalnya:
- Menolak atau berbeda pendapat itu tidak sopan atau egois.
- Orang akan menolak atau tidak menyukaiku.
- Kebutuhan orang lain lebih penting dari kebutuhanku.
Modul itu menyebut ini sebagai opini, bukan fakta, dan menawarkan sudut pandang lain: orang boleh meminta dan kamu boleh menolak; menolak permintaan tidak sama dengan menolak orangnya; dan orang sering melebih-lebihkan seberapa buruk reaksi lawan bicara terhadap penolakan.
Teknik yang Bisa Langsung Dipakai
1. Pakai kalimat “saya”, bukan “kamu”
Kalimat yang diawali “kamu” cenderung membuat lawan bicara defensif. Alihkan fokus ke apa yang kamu rasakan dan butuhkan. Rumus yang dipakai dalam materi Princeton University (UMatter) kira-kira begini: “Saya merasa … ketika … dan saya butuh …”.
- Kurang efektif: “Kamu selalu telat kirim laporan!”
- Lebih baik: “Saya jadi kesulitan menyelesaikan bagian saya kalau laporan datang terlambat. Bisa dikirim paling lambat Kamis siang?”
2. Gunakan alur DESC
Materi asertivitas dari Algonquin College menjelaskan DESC sebagai Describe, Express, Specify, Consequences:
- Describe: gambarkan situasi secara objektif. “Bagian tugas kelompok yang jatuh tempo hari ini belum saya terima.”
- Express: sampaikan perasaan dengan kalimat “saya”. “Saya khawatir kita terlambat mengumpulkan.”
- Specify: sebutkan perubahan yang diinginkan. “Bisa dikirim sebelum jam 5 sore?”
- Consequences: jelaskan dampak positif jika terpenuhi, atau dampak negatif jika tidak. “Kalau tepat waktu, kita semua bisa mengumpulkan tanpa kena penalti.”
3. Tolak dengan jelas dan singkat
Modul CCI soal menolak secara asertif menyarankan:
- Jujur dan langsung, tapi tetap sopan.
- Singkat saja. Tidak perlu minta maaf berlebihan atau penjelasan panjang, karena kamu berhak menolak.
- Buka dengan apresiasi, misalnya berterima kasih sudah diajak.
- Bicara pelan dan hangat supaya penolakan tidak terdengar ketus.
- Katakan “saya tidak mau” atau “saya memilih tidak”, bukan selalu “saya tidak bisa”, dan hindari menyalahkan atau mencari alasan.
Modul yang sama juga memberi beberapa pola penolakan, yang di bawah ini saya adaptasi ke bahasa Indonesia:
- Menolak dengan alasan: “Saya tidak bisa makan siang bareng karena laporan harus selesai besok.”
- Menolak sambil menawarkan lain waktu (hanya jika kamu memang mau): “Hari ini tidak bisa, tapi minggu depan saya bisa.”
- Menolak langsung: penolakan polos tanpa permintaan maaf.
4. Ulangi dengan tenang kalau didesak
Teknik “broken record” dari modul CCI: ulangi penolakan yang sama dengan nada tenang tanpa menambahkan alasan baru. Contohnya:
- “Ayo dong, nggak lama kok.”
- “Terima kasih, tapi saya tidak bisa ikut.”
- “Aku traktir deh.”
- “Terima kasih, tapi saya tetap tidak bisa ikut.”
Teknik ini cocok untuk orang yang terus mendesak. Hati-hati agar tidak terdengar seperti robot: nada hangat tetap penting.
5. Perhatikan bahasa tubuh dan nada
Materi Algonquin College menggambarkan perbedaannya:
- Tidak asertif: mata melihat ke bawah, postur membungkuk, bicara ragu, atau tertawa kecil gugup.
- Agresif: menatap tajam, mencondongkan badan, menunjuk, atau nada suara meninggi.
- Asertif: kontak mata yang baik, berdiri nyaman namun mantap, suara tenang dan stabil.
Princeton menyarankan bahasa tubuh terbuka: kontak mata yang mantap, postur tegak, dan gestur rileks.
Contoh Kalimat untuk Situasi Sehari-hari
Berikut contoh yang disesuaikan dari pola di atas. Ini ilustrasi, silakan ubah dengan gaya bicaramu.
| Situasi | Versi asertif |
|---|---|
| Berbeda pendapat di rapat | “Saya punya sudut pandang berbeda soal pendekatan ini. Boleh saya sampaikan?” |
| Tidak setuju, tapi tetap menghargai | “Saya paham alasannya, dan saya melihatnya sedikit berbeda. Menurut saya …” |
| Menolak tugas tambahan | “Terima kasih sudah percaya sama saya. Saat ini jadwal saya penuh, jadi saya tidak bisa mengambil ini.” |
| Candaan yang tidak nyaman | “Saya kurang nyaman dengan candaan seperti itu. Tolong dihindari ya.” |
| Teman minta pinjam barang terus | “Aku lebih nyaman kalau barang ini tidak dipinjamkan. Semoga kamu mengerti.” |
| Meminta waktu berpikir | “Saya perlu pikirkan dulu. Besok pagi saya kabari.” |
Beberapa contoh di atas sejalan dengan contoh kalimat asertif yang muncul di artikel Gramedia, misalnya “Saya merasa tidak nyaman dengan candaan seperti itu”.
Langkah Latihan Supaya Tidak Canggung
- Mulai dari situasi berisiko rendah. Latih di warung, di grup teman dekat, atau saat memilih tempat makan, bukan langsung di hadapan atasan.
- Tulis dulu kalimatnya. Susun satu atau dua kalimat inti: apa yang kamu rasakan, dan apa yang kamu minta.
- Latihan bersuara. Ucapkan di depan cermin atau rekam di ponsel supaya terbiasa mendengar nadamu sendiri.
- Pilih waktu yang tepat. Hindari menyampaikan hal sensitif saat orang sedang terburu-buru atau emosi.
- Dengarkan balasan. Asertif bukan monolog. Ciri komunikasi asertif menurut Gramedia termasuk terbuka dan mau mendengarkan.
- Evaluasi singkat. Setelahnya, catat apa yang berjalan baik. Orang sering mengira reaksi lawan bicara lebih buruk dari kenyataannya.
Kapan Perlu Menyesuaikan Gaya
Asertif bukan solusi untuk semua situasi. Princeton mencatat bahwa gaya ini mungkin kurang berhasil jika lawan bicara mengancam keselamatanmu, dan dalam situasi seperti itu keselamatan lebih penting daripada gaya komunikasi. Modul CCI juga menyebut bahwa menjawab “ya” kadang tepat, misalnya ketika atasan memberi permintaan yang memang bagian dari tugas.
Perlu juga disadari bahwa sebagian orang bisa salah menangkap ketegasan sebagai agresi. Menurut Princeton, salah tafsir ini lebih sering menimpa perempuan. Artikel Gramedia menambahkan bahwa komunikasi asertif yang dilakukan tanpa empati bisa memicu ketegangan atau dianggap egois. Jadi tegas perlu dibarengi nada hangat dan kesediaan mendengar.
Kesalahan yang Sering Terjadi
| Kesalahan | Dampaknya | Perbaikan |
|---|---|---|
| Terlalu banyak minta maaf saat menolak | Pesan jadi kabur, terkesan bisa dinegosiasi | Ucapkan terima kasih, lalu tolak dengan singkat |
| Memulai kalimat dengan “kamu selalu…” | Lawan bicara defensif | Pakai “saya merasa…” dan sebut kebutuhanmu |
| Menahan sampai meledak | Reaksi jadi berlebihan | Sampaikan saat masih kecil dan jelas |
| Menyindir halus | Pesan tidak sampai, hubungan jadi renggang | Katakan langsung dengan sopan |
| Memberi alasan yang panjang dan dibuat-buat | Mengundang debat | Cukup alasan singkat yang jujur, atau tanpa alasan |
| Tegas tapi tidak mendengar | Dianggap egois | Beri ruang untuk tanggapan |